Pentingnya branding bagi kelangsungan hidup produk

Branding adalah hal yang esensial jika ingin suatu merek atau produk untuk tidak hanya dikenal masyarakat, tapi juga untuk memiliki masa hidup yang panjang.

Pada dasarnya, branding merupakan cara merek tertentu menyampaikan makna sebuah produk agar memiliki jiwa. Makna tersebut harus dibuat dengan menarik dan diceritakan dengan cara yang selalu baru agar tetap relevan di masyarakat.

Untuk memiliki pengetahuan lebih mengenai bagaimana apa saja yang diperlukan dalam proses branding, simak beberapa tanggapan dari pakar dalam bidang branding di bawah ini!

Berakar kuat di masyarakat

Menurut Ardi Wirda Mulia, seorang research-based marketing strategist, agar bisa mengakar, suatu brand harus terlebih dulu dikenal. Pengenalan tersebut guna membentuk sikap dan asosiasi-asosiasi terhadap merek.

Brand yang kuat ditandai dengan sikap yang positif dan kuatnya asosiasi-asosiasi yang relevan dengan tujuan konsumsinya,” jelas Ardi ketika diwawancarai Rappler via surat elektronik.

Ardi melanjutkan, pengenalan ini harus terus dibangun melalui strategi pengelolaan merek agar implementasinya solid.

Selain itu data dan riset turut berperan penting dalam proses pengakaran brand yang kuat. Bagi Monita Moerdani, Head of Brand dari sebuah perusahaan e-commerce terbesar di Indonesia, sebelum menyampaikan makna sebuah merek perlu diketahui target konsumernya.

Penting untuk mengetahui siapa target yang dituju, apa gaya hidup dan nilai-nilai yang mereka junjung agar tepat sasaran. Jika ingin memasarkan produk bagi anak muda, perlu tahu orang-orang tersebut sedang dalam fase hidup apa dan mencari apa, apakah mereka anak muda yang haus berkreasi ataukah tipe anak muda yang ingin memulai bisnis?

“Kadang orang-orang memiliki mispersepsi bahwa untuk memasarkan sebuah brand hanya perlu visual yang bagus. Sebenarnya ada tugas panjang yaitu membuat data, ini penting agar brand terus relevan dan pengenalannya tidak basi,” tutur Monita ketika diwawancarai usai mengisi sebuah panel diskusi di SCBD, Jakarta Selatan.

Sedangkan ikatan emosi antara produk dengan konsumen adalah hal yang penting bagi pakar branding, Subiakto Priosoedarsono. Subiakto melanjutkan dan menjelaskan bahwa produk harus dapat memberi apa yang dibutuhkan konsumennya.

Memiliki dasar yang kuat

Sebuah merek atau produk perlu memiliki dasar-dasar yang kuat sebelum memulai proses branding ke masyarakat. Salah satunya menurut Monita adalah untuk membuat brand positioning agar produk tersampaikan dengan utuh kepada para konsumer.

Selain itu, perlu untuk mencari tahu apa yang ingin di-highlight atau difokuskan dari produk tersebut agar memudahkan proses pemasaran.

Monita mengatakan, pesan yang diberi sebuah brand tidak boleh “omong doang,” atau dalam kata lain harus terlihat dan dapat direalisasikan. Ia mengambil contoh merek mobil Volvo yang memposisikan dirnya sebagai mobil paling aman di dunia dan hal itu dibuktikan dengan menggunakan teknologi yang memang didesain untuk memberikan keamanan maksimal bagi pengendaranya.

Jadi tetap kita harus punya pesan yang menarik tapi secara produk kita harus bisa deliver message itu,” katanya.

Berbicara mengenai brand positioning, Subiakto juga berpendapat bahwa hal tersebut merupakan strategi yang diperlukan agar brand bisa tertanam kuat di benak konsumen.

Sedangkan menurut Ardi, brand harus memiliki sebuah esensi, sederhananya, memberi tahu kepada publik apa yang dapat brand tersebut kontribusikan kepada dunia. “Dari situ baru rancang brand identity. Ini menjadi acuan dalam membangun narasi tentang ‘siapa’ merek itu dan ‘apa’yang dilakukannya,” lanjut Ardi.

Setelah itu tindak lanjutnya adalah menyelaraskan elemen pengenal brand seperti logo dan memastikan semua sejalan dengan narasi brand tersebut. Narasi brand menurutnya adalah hal-hal yang ingin ditanamkan asosiasinya kepada publik, disebut sebagai narasi karena harus ada pesan yang ingin disampaikan dan tetap relevan dengan tujuan merek terkait.

“Contohnya narasi kuat dari Air Asia dan berbunyi ‘Now everyone can fly’, ini merupakan narasi atau pesan yang kuat.”

Namun perlu diperhatikan bahwa narasi berbeda dengan slogan. Jika slogan bersifat temporer, narasi brand seharusnya sesuatu yang sustainable.

Pengenalan keberadaan produk

“Aktivasi brand bertujuan untuk meningkatkan ikatan emosi ke benak konsumen dengan memasukkan value kea lam bawah sadar melalui slogan, jingle, atau tampilan visual,” jelas Subiakto mengenai pengenalan produk.

Bagi Ardi, pengenalan ini utamanya diperoleh melalui pengenalan penggunaan dan keberadaan produk di kehidupan sosial konsumer. Pengenalan ini dapat diperoleh melalui komunkasi pemasaran juga.

Masuk ke komunitas

Ada beberapa brand yang berhasil membuat cult followers yang loyal dan sudah mendarahdaging dengan brand mereka seperti Harley Davidson hingga busana streetwear, Supreme.

Menurut Monita, eksklusivitas dan loyalitas konsumer ini hadir dari membangun hubungan dengan komunitas.

“Hal itu adalah cara yang sangat efisien untuk membuat massa. Saat kita membangun animo dan endorse komunitas yang mungkin memang tidak terlalu terkenal, tapi mereka besar dan memiliki loyalitas serta solidaritas besar, di situ biasanya tercipta cult followers,” jelas Monita.

Sumber :  rappler.com

Images : connectnigeria.com

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

kartal Escort grup porno Porno Resim Maltepe Escort porno istanbul Escort

dizi izle